Detik-detik Menjelang Mubes Pers Indonesia, FORWARD Nyatakan Bergabung

Layar Independen

Jakarta, 10 Desember 2018

Musyawarah Besar (Mubes) Pers Indonesia rencananya akan digelar dalam waktu dekat ini, yakni tanggal 18 Desember 2018, bertempat di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta. Sejumlah organisasi Pers yang tergabung dalam Sekretariat Bersama (Sekber) Pers Indonesia, telah sepakat menyukseskan acara ini.

Guna kelancaran acara, panitia yang terdiri dari para pengurus dan anggota sekber pers Indonesia, pada Sabtu (8/12/2018) menggelar rapat persiapan di Serang, Banten, dipimpin oleh Ketua Sekber Pers Indonesia Wilson Lalengke dan dihadiri 17 (tujuh belas) organisasi Pers. Mubes mengundang sekitar 2000 peserta dari berbagai elemen masyarakat pers dari 34 Provinsi se-Indonesia.

Foto Bersama Di Kantor Sekretariaat Bersama

Wilson Lalengke, pionir jurnalisme warga dengan jaringan terluas ini menjelaskan, bahwa dalam Mubes Pers Indonesia, akan dilakukan pembacaan deklarasi dan penyampaian Tuntutan Pers Indonesia. “Dalam Mubes Pers Indonesia nantinya kami akan menggelar deklarasi untuk terbentuknya Dewan Pers Independen serta menyampaikan aspirasi dan tuntutan Pers Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan pers dan kehadiran negara dalam pemberdayaan masyarakat Pers Indonesia,” terang Wilson Lalengke, penggagas Mubes Pers Indonesia, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) itu.

Dalam beberapa waktu mendekati hari H pelaksanaan Mubes, sejumlah pihak menyatakan mendukung dan bergabung dengan Sekber Pers Indonesia. “Hari ini FORWARD (Forum Wartawan Digital – red) dan sejumlah media juga menyatakan bergabung,” ungkap Wilson.

Bahkan, beberapa perwakilan masyarakat internasional dan negara sahabat juga akan hadir dalam pertemuan akbar pertama wartawan Indonesia sepanjang sejarah, pada 18 Desember mendatang. “Hari ini kita dihubungi pihak The World Philosophical Forum of UNESCO dan warga Jerman yang menyampaikan bahwa para pihak tersebut ingin sekali hadir dalam Mubes Pers Indonesia nanti,” imbuh Alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu.

Di tempat terpisah, pengurus pusat Forward, Mahar Prastowo, menyampaikan bahwa pihaknya sangat mendukung gagasan penyelenggaraan Mubes Pers Indonesia dalam rangka memperbaiki kondisi pers di tanah air yang sudah rusak parah oleh para pemburu rente politik dan kapitalisme media. “Setelah mendapat penjelasan Ketua Sekber Pers Indonesia, Bang Wilson Lalengke, ternyata kita satu visi, jadi hari ini juga FORWARD menyatakan bergabung dalam perhelatan ini,” terang Mahar Prastowo di Jakarta, Minggu (9/12/2018).

FORWARD yang merupakan wadah perkumpulan dan komunikasi para wartawan dan pengelola media berbasis digital, lanjut Mahar, juga menyampaikan 10 (sepuluh) butir draft petisi pernyataan sikap terkait dengan hal-hal yang menyangkut kebebasan pers, sikap diskriminasi industri dan insan pers, peningkatan kapasitas dan kualitas pers melalui diklat dan peningkatan SDM wartawan, serta pernyataan yang bersifat himbauan kepada pemerintah di dalam negeri dan dunia internasional terkait masih adanya kriminalisasi pers di berbagai negara selama ini. “Kami juga mengirimkan draft tuntutan masyarakat Pers Indonesia yang akan dibacakan di Mubes nanti setelah direview dan disempurnakan oleh Ketua Sekber Pers Indonesia,” pungkas Mahar, yang juga dikenal sebagai _issue-maker_ ini. (AWD/Red)

KKSB Biadab Bunuh Puluhan Pekerja Jembatan, Pasukan Gabungan Dikirim ke Nduga

Layar Independen

Jayapura, 5 Desember 2018

Sebagaimana diberitakan sebelumnya bahwa berdasarkan laporan dari Pendeta Wilhelmus Kogoya (Tokoh gereja Distrik Yigi) melalui saluran Radio SSB yang diterima oleh aparat keamanan pada tanggal 03 Desember 2018 pukul 15.30 WIT, bahwa telah terjadi pembantaian terhadap pekerja jembatan, karyawan PT. Istaka Karya sejumlah 24 orang tewas tertembak. Para korban tewas diduga dibantai secara biadab oleh KKSB (Kelompok Kriminal Separatisme Bersenjata).

Menanggapi laporan tersebut aparat keamanan TNI-Polri segera mengirim pasukan ke TKP (Tempat Kejadian Perkara) dalam rangka upaya penindakan dan evakuasi korban.

Pada 4 Desember 2018 sekira pukul 17.45 WIT, pasukan gabungan TNI-Polri berhasil mengevakuasi 12  masyarakat terdiri dari: 4 orang karyawan PT. Istaka Karya, 6 orang petugas Puskesmas Mbua dan 2 orang guru SMP Mbua dengan menggunakan Hellycopter milik TNI AD. Di antara mereka terdapat 3 orang karyawan PT. Istaka Karya yang mengalami luka tembak korban kekerasan KKSB dan saat ini sedang dievakuasi ke RSUD Wamena.

Dari keterangan salah seorang korban karyawan PT. Istaka Karya yang selamat dari pembantaian KKSB a.n Jimmy Aritonang, ia membeberkan kronologis kejadian sbb:

Bahwa pada tanggal 1 Desember 2018 seluruh karyawan PT. Istaka Karya memutuskan untuk tidak bekerja karena pada hari itu ada upacara peringatan 1 Desember yang diklaim sebagai hari kemerdekaan KKSB dan dimeriahkan dengan upacara bakar batu bersama masyarakat.

Sekitar pukul 15.00 WIT, kelompok KKSB mendatangai Kamp PT. Istaka Karya dan memaksa seluruh karyawan sejumlah 25 orang keluar, selanjutnya digiring menuju kali Karunggame dalam kondisi tangan terikat dikawal sekitar 50 orang KKSB bersenjata campuran standard militer.

Keesokan harinya, Minggu tanggal 2 Desember 2018, pukul 07.00 WIT, seluruh pekerja dibawa berjalan kaki dalam keadaan tangan terikat menuju bukit Puncak Kabo. Di tengah jalan mereka dipaksa berbaris dengan formasi 5 saf dalam keadaan jalan jongkok.

Tidak lama kemudian para KKSB dalam suasana kegirangan menari-nari sambil meneriakkan suara hutan khas pedalaman Papua, mereka secara sadis menembaki para pekerja. Sebagian pekerja tertembak mati di tempat sebagian lagi pura-pura mati terkapar di tanah.

Setelah itu KKSB meninggalkan para korban, melanjutkan perjalanan menuju bukit Puncak Kabo, 11 orang karyawan yang pura-pura mati berusaha bangkit kembali dan melarikan diri. Namun malangnya mereka terlihat oleh KKSB sehingga mereka dikejar. 5 orang tertangkap dan digorok oleh KKSB (meninggal di tempat), 6 orang berhasil melarikan diri ke arah Mbuah. 2 orang diantaranya belum ditemukan, sedangkan 4 orang (diantaranya saksi Jimmy Aritonang), selamat setelah diamankan oleh anggota TNI di Pos Yonif 755/Yalet di Mbua.

Pada 3 Desember 2018, sekitar pukul 05.00 WIT, Pos TNI 755/Yalet tempat korban diamankan diserang oleh KKSB bersenjata standar militer, campuran panah dan tombak; rupanya mereka tetap melakukan pengejaran. Serangan diawali dengan pelemparan batu ke arah Pos sehingga salah seorang anggota yonif 755/Yalet a.n. Serda Handoko membuka jendela, sehingga tertembak dan meninggal dunia. Anggota pos membalas tembakan yang kemudian terjadi kontak tembak dari jam 05.00 pagi hingga 21.00 WIT. Karena situasi tidak berimbang dan kondisi medan yang tidak menguntungkan, maka pada 4 Desember esoknya,  pukul 01.00 WIT, Danpos memutuskan untuk mundur mencari medan perlindungan yang lebih menguntungkan, saat itulah salah seorang anggota a.n Pratu Sugeng tertembak di lengan.

Selasa, 4 Des 2018, pukul 07.00 WIT Satgas gabungan TNI-Polri berhasil menduduki Mbua dan melaksanakan penyelamatan serta evakuasi korban.

Menurut Keterangan Jimmy, jumlah korban yang dipastikan meninggal dunia dibantai oleh KKSB di lereng bukit Puncak Kabo adalah 19 orang. (AIDI/Red)

Top..!! BBVet Wates Nomor Wahid Selesaikan Program Bekerja

Layar Independen

Yogyakarta, 4 Desember 2018

Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates mengundang ratusan warga berbagai pelosok desa dari delapan kecamatan di wilayah Kabupaten Banyumas dan Purbalingga, bertempat di Hotel Cavinton Yogyakarta. Pertemuan dua hari, yang dimulai pada tanggal tiga sampai empat Desember 2018 itu adalah untuk evaluasi pelaksanaan Program Bekerja (Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera).

Tidak kurang 169 orang warga desa terlihat hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka berasal dari desa-desa dari Kecamatan Jatilawang, Kalibagor, Patikraja dan Pekuncen di Kabupaten Banyumas, serta warga dari desa yang tersebar di Kecamatan Rembang, Mrebet, Kaligondang dan Kutasari di Kabupaten Purbalingga.

Elemen warga desa yang hadir meliputi kepala desa, petugas koordinator dan pendamping kecamatan, petugas koordinator desa.

Selain pejabat dan staf BBVet dan warga desa, hadir juga para pemangku kebijakan dari Kementerian Pertanian Pusat. Terlihat hadir diantaranya Sesdit Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ir. Nasrullah, Direktur Perbibitan, Ir. Sugiono, Dirjen PKH (Peternakan dan Kesehatan Hewan), Dr. I Ketut Diarmita, dan Direktur Kesmavet drh. Syamsul.

Sebagaimana diketahui bahwa BBVet Wates, Yogyakarta, telah selesai melaksanakan Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera atau dikenal juga dengan Program Bekerja, Tahun 2018. BBVet Wates menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang pertama kali selesai melaksanakan program ini di antara lembaga-lembaga pemerintah lainnya yang mendapat tugas tambahan untuk melaksanakan Program dimaksud.

Program Bekerja sesungguhnya merupakan salah satu program unggulan dari Kabinet Bekerja yang langsung dirasakan manfaatnya oleh rakyat berupa bantuan bibit ayam sejumlah 50 (limapuluh) ekor setiap Rumah Tangga Miskin (RTM). Pelaksanaan Program Bekerja oleh BBVet Wates di Kabupaten Purbalingga dan Banyumas menjadi contoh bagi UPT yang lain. Misalnya, BBVet Maros di Sulawesi, BBVet Lampung di Sumatera, BBPTU Baturaden dengan wilayah bagi di Kabupaten Brebes dan Jawa Barat, Pusvetma dan BBIB Singosari di Jawa Timur belajar ke BBVet Wates terkait implementasi program ini. Berbagai permasalahan dan hambatan, baik dari pengadaan ayam, interaksi dengan RTM penerima ayam Program Bekerja, komunikasi dengan dinas dan pemerintah desa, hingga metode pembagian yang dilaksanakan oleh BBVet Wates menjadi contoh untuk pelaksana Program Bekerja di wilayah lain di Indonesia.

Pertemuan dua hari itu diisi dengan pemberian pengarahan dari para pemangku kebijakan, di antaranya Ir. Nasrullah selaku Sesdit PKH Kementerian Pertanian, Dirjen PKH, Dr. I Ketut Diarmita, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi hangat di antara para stakeholder Program Bekerja. Evaluasi tersebut menghasilkan hal-hal positif bagi perbaikan kedepan, baik system maupun manajemen serta metode dari program Bekerja yang meliputi proses persiapan, penanganan hambatan dan solusinya. Diharapkan, di tahun 2019 Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera dapat berjalan dengan lebih baik dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi rakyat. (BAS/Red)

Agus Waluyo Jabat Pimpinan Baru Polres Tobasa

ayar Independen

Balige, 24 November 2018

 

AKBP Agus Waluyo, SIK sejak minggu ini menjabat sebagai Kepala Kepolisian Resort Toba Samosir (Kapolres Tobasa). Acara pisah-sambut Kapolres Tobasa berlangsung hikmad dan penuh kesan dilaksanakan pada Rabu, 21 November 2018, di halaman Mapolres Tobasa.

Sebelumnya, Polres yang berada di Kabupaten Toba Samosir di pinggiran danau Toba itu, Sumatera Utara itu dipimpin oleh AKBP Elvianus Laoli, SIK, MH. Ia sempat memimpin Polres Tobasa ini selama hampir dua tahun. Kini, Elvianus diberi tugas baru di lingkungan Korps Brimob Polda Banten, sebagai Wakil Komandan Satuan (Wadansat).

Upacara Farewell Parade

Pada acara pisah-sambut Kapolres Tobasa, selain hadir kedua pejabat Kapolres, juga terlihat para tokoh masyarakat berbaur dengan para pejabat utama dan anggota Polres. Kabag Humas Polres Tobasa, B. Samosir dan Wakapolres A. Siagian turut hadir.

“Acaranya berlangsung sangat hikmat dan berkesan bagi kedua Pimpinan Polres, baik yang baru maupun yang akan pindah tugas,” kata Alboin Hutagaol, Ketua PPWI Tobasa yang berkesempan hadir bersama pengurus lainnya di acara tersebut.

Bagaimana tidak, lanjut Alboin, acara penyambutan dilakukan dengan serangkaian adat Batak yang dipimpin oleh Pimpinan Tokoh Adat Batak Tobasa. Demikian juga acara pelepasan Kapolres Tobasa yang lama, dilepas dengan acara adat masyarakat setempat, sebelum Elvianus bersama istri dilepas dengan penghormatan ala kepolisian ke tempat tugas yang baru.

“Kami berharap, walaupun Bapak AKBP Elvianus Laoli sudah berada di tempat tugas yang baru di Polda Banten, namun kesatuan rasa persaudaraan kita, antara Bapak dengan kami masyarakat Tobasa mestilah tetap sama seperti selama ini,” ujar Pimpinan Tokoh Adat Batak dalam penyampaiannya saat memimpin acara adat pisah-sambut Kapolres Tobasa tersebut. (MRY/Red)

Hujan Disertai Angin Robohkan Rumah

Layar Independen

Madiun, 19 November 2018

Rumah Ramin warga Rt 17 Rw 02 Desa Gandu Kecamatan Pilangkenceng Kabupaten Madiun, kemarin sekitar jam 16.00 WIB roboh rata dengan tanah lantaran diterpa hujan yang disertai angin (18/11/2018).

Puing Puing Rumah Ramin Yang Hancur Di Terpa Hujan Yang Disertai Angin

Sunarto Kepala Desa Gandul membenarkan atas kejadian yang menimpa rumah warganya. “ini terjadi tadi sekitar pukul 16.00 WIB, angin kencang dan hujan merobohkan rumah pak Ramin yang berada di RT17/RW 02, tidak ada korban jiwa hanya kerusakan material yang ditafsir mencapai puluan juta” ungkap Sunarto.
Di bantu warga dan anggota Koramil pihak desa membantu membersihkan puing-puing rumah Ramin .
Hingga saat ini pihak desa sudah berkoordinasi dengan pihak BPBD kabupaten Madiun guna untuk mendapatkan bantuan dan pertolongan.
Saat berita ini di turunkan korban sementara tinggal di rumah tetangga. (Red)

Hujan Di Sertai Angin Kencang Robohkan Pohon Dan Hancurkan Bangunan

Layar Independen

Magetan, 19 November 2018

Hujan disertai angin kencang selama 15 menit menerjang Kabupaten Magetan, sehingga menyebabkan puluhan pohon tumbang dan menghancurkan puluhan bagunan, Minggu (18/11).
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan sebanyak 20 lebih pohon tumbang sehingga menutup akses jalan serta sebagian menimpa rumah warga.
“Kejadian Hujan Deras disertai Angin Kencang yang merata di beberapa wilayah di Kabupaten Magetan, menyebabkan lebih dari 20 pohon tumbang yang menutup akses jalan dan sebagian menimpa beberapa rumah dan bangunan lainnya,”kata Bagus Irawan anggota BPBD Kabupaten Magetan melalui laporanya, Minggu (18/11).

Pohon Tumbang Yang Di Sebabkan Hujan Angin Di Kabupaten Magetan


Sesuai data yang masuk ke redaksi media Layar Independen sementara wilayah Kabupaten Magetan yang terkena dampak hujan angin meliputi
1. Selatan Puskesmas Rejomulyo, ada 2 (dua) titik pohon tumbang
2. Jl. Raya Maospati, ada 3 (tiga) titik. 2 menutup jalan dan 1 menimpa mobil
3. Depan BRI Selosari
4. Desa Turi Kecamatan Pankan Pohon tumbang menimpa warung dan 3 (tiga) rumah tertimpa pohon tumbang.
5. Sekitaran Alun2 Magetan
6. Jl. Tembus atas Sarangan
7. Timur Polsek Karas
8. Bangunan di Pasar Hewan Plaosan
9. Depan POM Srogo
10. Selorejo
11. Ndoyo
12. Taji, Karas
13. Pendopo Surya Graha
14. Bedagung, Panekan
15. Sugihwaras
16. Karangrejo
17. Jl. Yos Sudarso
18. Utara Lapangan Cepoko
19. Bendo
20. Sumbersawit, beberapa rumah rusak karena angin kencang.
21. Depan penggilingan batu pohon timpa truck
23. Barat ada 5 titik
24. Cemorosewu.
Sementara ini personil BPBD, TNI, Polri, PU PR, Dinsos dan dibantu masyarakat sedang melakukan penanganan dengan melakukan pembersihan matrial pohon tumbang yang mengganggu akses lalulintas. Dan sampai brita ini diterbitkan belum ada pernyataan resmi tentang kerugian matrial. (Ton/Red)

Prosesi Pemakaman Jenasah Alviani Hidayatul Solikah Di Warnai Isak Tangis Keluarga

Layar Independen

Madiun, 16 Oktober 2018

Jenasah Alviani Hidayatul Solikha (19), salah satu pramugari korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT610 di perairan karawang beberapa hari lalu telah tiba di rumah duka Desa Mojorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Rabu siang (14/11/2018).
Sebelumnya pada Rabu pagi, Jenasah Alviani diberangkatkan dari Jakarta menggunakan pesawat terbang menuju Solo Jawa Tengah dan dilanjutkan perjalanan darat menggunakan ambulan.
Saat tiba di rumah duka, putri semata wayang pasangan Suwito dan Sukartini tersebut langsung disambut isak tangis keluarga maupun kerabat.
“Alviani itu anak cerdas, saat mengikuti rekrutmen Lion Air di Jogja dia langsung diterima dan setelah itu langsung mengikuti pendidikan di Angkasa Training Center Batch 406 JT di Tangerang,” terang Deddy Arliadi mantan pengajar Alviani di Jogja.

Pemakaman Jenasah Alviani Hidayatul Solikha

Pemakaman korban:
Setibanya di rumah duka tersebut, jenasah Alviani Hidayatul Solikha langsung dimakamkan di pemakaman umum desa setempat.
Namun sebelum dimakamkan, terlebih dahulu jenasah korban disholatkan oleh keluarga maupun kerabat.
Dengan menggunakan ambulan, jenasah pun langsung dibawa ke pemakaman yang diiringi ratusan warga.
Saat itulah, ibu korban terlihat lemas dan seakan tidak percaya putri semata wayangnya meninggal secepat itu.
Camat Kebonsari, Supriadi, berharap agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan untuk pemberian santunan pihaknya belum bisa memastikan.
“Semoga keluarga diberikan ketabahan, kami belum bisa memastikan untuk memberikan santunan, namun dalam hal pengurusan administrasi nantinya akan kami bantu,” pungkas Camat Kebonsari. (Red)

Upacara Pedang Pora Warnai Sertijab

Layar Independen

Magetan, 16 Oktober 2018

Serah terima jabatan (Sertijab) Kapolres Magetan yang baru, Polres Magetan menggelar upacara pedang Pora yang dilaksanakan di halaman Mapolres Magetan ,Kamis (15/11/2018).
Prosesi pedang pora tersebut sekaligus dijadikan apel pergantian Kapolres Magetan dari AKBP Muslimin S.I.K. yang digantikan oleh AKBP Muhammad Riffai S.H.,S.I.
Prosesi pedang pora tersebut dihadiri seluruh para pejabat utama, Perwira, Brigadir dan PNS Polres Magetan. Suasana pedang pora berlangsung khidmat, begitu saat Kapolres baru AKBP Muhammad Riffaill, S.H., S.I. Mulai menginjakan kakinya di karpet merah yang sudah disediakan yang berada di dalam halaman Mapolres Magetan.

Upacara Pedang Pora

Dalam sambutannya AKBP Muslimin S.I.K meminta maaf kepada seluruh anggotanya yang akan ditinggalkanya. Kapolres juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh anggota Polres Magetan yang selalu membantu dalam pelaksanaan tugasnya. Sehingga terjaga situasi keamanan yang selalu berjalan kondusif khususnya dibawah jajaran hukum Polres Magetan.
“ Saat dibawah kepemimpinan saya, apabila ada kesalahan yang saya perbuat sengaja ataupun tidak saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.Saya ucapkan terima kasih banyak kepada semuanya atas kerjasama selama ini. Saya berharap dengan pemimpin yang baru nanti bisa lebih baik lagi,” kata AKBP Muslimin, S.I.K dalam sambutanya.

Upacara Pedang Pora

Selain itu AKBP Muslimin, S.I.K juga berpesan kepada Kapolres yang baru untuk segera menindaklanjuti kasus yang ditinggalkannya
“Tentunya kita harapkan semua kasus korupsi yang belum direaliasikan bisa segera dilanjutkan oleh AKBP Riffai, karena kita tau Kapolres juga sudah 10 tahun di KPK, saya yakin bisa segera beres,’’ jelas AKBP Muslimin, S.I.K.
Sementara Kapolres Magetan yang baru AKBP Muhammad Riffai, S.H., S.I. juga mengatakan akan secepatnya melakukan adaptasi dengan semua elemen-elemen Polres Magetan dan juga semua Instansi-Instansi di Kabupaten Magetan guna melanjutkan program-program- program Kapolres lama agar Magetan tetap Kondusif.
”Yang jelas saya akan secepatnya beradaptasi dengan semua anggota dan juga instansi di Kabupaten Magetan,apalagi ini menjelang Pilpres, agar Magetan bisa tetap aman dan kondusif,’’pungkas AKBP Muhammad Riffai, S.H., S.I. (Red)

Warga Pemalang Disatroni Sekuriti Vendor ATM, Ketum PPWI: Bank Mesti Hati-hati Memilih Vendor

Layar Independen

Pemalang 1 November 2018

 

Seorang warga di Pemalang, Jawa Tengah, Ratna Dewi (19), mengalami hal buruk beberapa waktu lalu. Pasalnya, pada 27 Oktober lalu, Ratna tiba-tiba didatangi tamu tak diundang, seorang yang mengaku sekuriti dari sebuah perusahaan penyedia jasa (vendor) keuangan, PT. Bringing Gigantara, dengan maksud melakukan penagihan terhadap uang yang diduga kelebihan penarikan uang dari ATM BRI.

Ratna yang saat itu bersama ibunya di rumah, kaget setengah mati, didatangi orang berseragam sekuriti, sementara mereka merasa tidak melakukan kesalahan apapun terhadap ATM BRI yang dituduhkan. Akibat kejadian yang sangat tidak menyenangkan itu, Ratna menyampaikan keluhannya ke PPWI Nasional melalui jalur pesan WhatsApp ke No. 081371549165. Laporan yang disampaikan lulusan SMK PGRI 2 Taman Pemalang itu lengkap dengan bukti Surat Tugas melakukan penagihan atas nama Kadek Budi Yasa dari perusahaan vendor ATM BRI, PT. Bringing Gigantara dimaksud.

Menurut Ratna yang disampaikan melalui wawancara telepon, ia menuturkan bahwa pada tanggal 19 Oktober 2018 sekira pukul 19.11 wib, dirinya diminta ibunya, Rustiningsih, mengambil uang dari ATM ibunya, di mesin ATM BRI terdekat. Karena saldo di ATM hanya tersisa sekitar 1 juta lebih 40-an ribu, maka Ratna mengambil uang sejumlah Rp. 950.000,- di mesin ATM bertuliskan nominal Rp. 50.000,-

Ternyata, uang keluar dari mesin ATM BRI Unit Taman Pemalang itu, bernominal Rp. 100.000,- sejumlah 10 lembar. Artinya total uang yang ditarik adalah 1 juta rupiah. Dari transaksi yang ganjil tersebut, Ratna kemudian menghitung jumlah uang yang diterimanya, selagi yang bersengkutan berada di depan mesin ATM. Setiba di rumah, Ratna langsung menyerahkan seluruh uang tersebut kepada ibunya.

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada tanggal 25 Oktober, sekira pukul 11.30 siang, seseorang yang mengaku bernama Iwan mendatangi alamat Ratna, dan bertanya, “Benarkah ini rumah Rustiningsih? Saya dari vendor, anaknya kelebihan ambil uang di ATM.” Setelah itu, yang bersangkutan pamit dan langsung pergi.

Dua hari kemudian, yakni Sabtu, 27 Oktober, seorang yang tak diundang lainnya bernama Kadek, mendatangi rumah Ratna sekira pukul 10.00 pagi. Yang bersangkutan memperkenalkan diri dan memberikan surat tugas kepada Ratna yang didampingi ibunya, Rustiningsih. Kadek juga memperlihatkan rekanman CCTV yang merekam seseorang yang diduga sebagai Ratna menghitung uang, yang jumlahnya 18 lembar nominal 100.000, yang artinya total berjumlah 1,8 juta rupiah.

Bentuk Surat Tugas Kadek Budi Yasa

Kadek selanjutnya meminta dikembalikan uangnya, sebesar Rp. 900.000,- “Jika belum ada uangnya, saya akan membantu meminjamkan (ditalangin – red), kalau sudah ada uang nanti dikembalikan kepada saya,” kata Kadek ketika melihat Rustingsih dan Ratna bersihkeras bahwa uang yang terambil dari ATM BRI hanya 1 juta, 10 lembar uang nominal 100.000,- rupiah.

Rustiningsih menolak. Ia beralasan, karena dia merasa tidak punya utang, dirinya dan anaknya tidak mengambil uang lebih di ATM sebagaimana dituduhkan. Hanya 1 juta rupiah saja, tidak lebih. “Saya akan melakukan klarifikasi ke Bank BRI untuk memastikan hal ini,” tegas Rustiningsih.

Kadek mempersilahkan Rustiningsih mengkofirmasi ke pihak Bank BRI, dengan mengeluarkan pernyataan, “Silahkan konfirmasi ke Bank-nya, tapi kalau nanti terbukti, itu seperti menjilat ludah sendiri.”

Akhirnya, karena ketakuatan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Ratna berinisiatif menyampaikan bahwa, karena uangnya 10 lembar 100.000, berarti ada kelebihan 50.000. “Ini saya berikan uang 100 ribu. Dalam uang ini, uangnya mama saya ada 50 ribu, uang ATM 50.000,- lagi,” ujar Ratna.

Kadek menerima uang 100.000,- itu seraya berkata bahwa uangnya akan dimasukan datanya dahulu, nanti sisanya yang 800 ribu lagi diberi tempo kepada keduanya untuk pelunasannya.

Selanjutnya, Ratna bersama ibunya mendatangi pihak Bank BRI KCP Pemalang, Senin (29 Oktober 2018) pukul 14.30 wib. Keduanya bertemu Customer Service bernama Gading (P) yang kemudian mempertemukan mereka dengan Pimpinan BRI KCP Pemalang. Oleh Pimpinan Bank, dijelaskan bahwa beberapa waktu lalu terjadi kesalahan pengisian uang di ATM, yang seharusnya mesin ATM bernominal 50.000,- namun terisikan dengan uang dengan nominal 100.000,-

Bank kemudian berjanji akan melakukan cross-check kasus tersebut ke pihak PT. Bringing Gigantara. Namun sampai hari ini, saat berita ini diturunkan, pihak BRI KCP Pemalang belum memberikan informasi lanjutan kepada korban.

Demikian juga, pihak Kadek dan Pimpinan PT. Bringing Gigantara belum memberikan klarifikasi atas kasus ini. Kadek beralasan ia hanya melaksanakan tugas yang diberikan pimpinannya. Sementara itu, Kadek tidak bersedia memberikan nomor kontak pimpinannya untuk dimintai konfirmasi terkait kesalahan mereka dan perlakuan buruk terhadap nasabah Bank BRI.

Terkait dengan kejadian yang menimpa warga di Pemalang tersebut, Ketua Umum PPWI Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA penyesalannya atas kejadian dan pelayanan buruk dari pihak perbankan terhadap nasabahnya. Berikut pernyataannya resminya sebagaimana diterima redaksi media ini, Kamis, 1 November 2019, sebagai berikut:

1. Meminta kepada Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk mempertimbangkan dan jika perlu memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan vendor penyediaan uang di ATM BRI, yakni PT. Bringing Gigantara. Sebagai bank milik rakyat, seharusnya pihak BRI senantiasa memberikan pelayanan terbaik bagi rakyat yang menjadi nasabahnya. Kejadian yang dialami warga Pemalang itu bisa saja hanya merupakan salah satu puncak gunung es dari banyaknya kasus buruknya pelayanan transaksi di mesin ATM selama ini.

2. Menghimbau masyarakat perbankan agar selalu melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap semua stakeholders yang menjadi mitra kerjanya selama ini, termasuk para vendor penyedia dana di mesin-mesin ATM mereka.

3. Mendesak pihak PT. Bringing Gigantara untuk meminta maaf kepada warga Pemalang, Ratna Dewi dan keluarga, atas keteledoran dan perlakuan tidak menyenangkan yang mereka lakukan terhadap warga masyarakat yang notabene adalah nasabah BRI.

4. Meminta Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar melakukan investigasi dan pendataan serta tindakan yang diperlukan atas lembaga usaha di bidang perbankan dan keuangan yang tidak mampu bekerja secara professional.

Terakhir, lulusan PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 ini juga menghimbau agar setiap orang yang mengambil uang di ATM selalu memperhatikan jumlah uang yang diterima dari mesin ATM-nya, dan menyimpan resi bukti pengambilan dananya. (HWL/Red)

Para Peserta Sosialisa Grativikasi, Tidak Tau Lirik Lagu Indonesia Raya 3 Stan

Layar Independen

Magetan 15 September 2018

 

Kemarin tanggal 15 September 2018, sebanyak 1000 (seribu) orang yang bekerja di instansi Pemerintahan Kabupaten Magetan, mulai jajaran Kepala Desa, Camat, Sampai Kepala Dinas, bahkan Kepala Sekolah dan guru, berkumpul di Pendopo Graha Surya. Hal ini, di lakukan demi mendapatkan wejangan dari Agus Raharjo Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait grativikasi secara langsung.
Agus Raharjo Ketua KPK dihadapan 1000 peserta yang hadir sempat memberi warning kepada Bupati dan Wakil Bupati Magetan agar tidak melakukan grativikasi, karena selama kepemimpinanya dirinya sudah mengamankan sebanyak 12 Bupati dari Jawa Timur yang terlibat korupsi ataupun gartivikasi.
‘’Ada salah satu Gubernur dulu tanda tangan fakta intergritas didepan saya, tidak lama dia ketangkap KPK, adalagi seorang politisi ternama bersumbah tidak akan melakukan grativikasi, tapi besuknya sudah pakai rompi tahanan, jadi perubahan itu tidak boleh hanya formalitas saja,”ujar Agus Raharja.

Ketua KPK Agus Raharjo Memakai Batik Bersama Bupati Magetan

Bukan cuma terkait ulasan gratifikasi yang di berikan oleh Ketua KPK saja yang menarik perhatian, namun yang lebih menarik malah waktu kehadirannya itu, pasalnya kehadiran Ketua KPK tersebut disambut dengan nyanyian Indonesia Raya yang carut marut oleh ribuan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan sejumlah undangan lain. Ribuan peserta sosialisasi pengendalian grativikasi yang digelar langsung oleh Ketua KPK tampak jelas kebingungan saat menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dibuat secara 3 stanza, lagu yang memang asli dibuat Wage Rudolf Soepratman. Para peserta yang tidak tahu lirik lagu Indonesia Raya dengan 3 stanza tampak bingung dan bahkan mereka tampak saling pandang dengan peserta lain. Yang untungnya, operator cepat tanggap, sehingga langsung memunculkan lirik secara langsung dalam layar proyektor, dan walau terbata-bata akhirnya bisa mengikuti.
Agus Rahardjo mengatakan, makna lagu Indonesia Raya dengan 3 stanza tersebut sangat dalam, seperti halnya Kabupaten Magetan ini yang juga harus berubah dalam menjalankan roda pemerintahanya terutama dalam memberantas korupsi. “lagu Indonesia raya yang asli diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman, memang 3 stanza dan Kenapa kita pilih lagu yang asli, karena lagu ini maknanya sangat dalam dan syairnya sangat komplit,”ujar Agus dalam sambutanya. (Red)