I Gusti Putu Gandha Loka. S.H : Tidak Sepantasnya Bila Seorang Pejabat Memutuskan Mediasi Berdasarkan Norma Suka Dan Tidak Suka

I Putu Gandha Loka. S.H pakai Seragam Hitam Berasa Hariono. S.Sos.,M.Si Camat Sawahan

Layar independen, madiun, 19 Desember 2021

Setelah terbit pada edisi 15 Desember dengan judul,”Drama Mediasi Sengketa Batas Lahan”.
Rosyid Pamudji.S.H., MH penasehat Supriyanto memberikan tugas kepada I Gusti Putu Gandha Loka.S.H selaku para legal guna klarifikasi ucapkan Hariono. S.Sos.,M.Si Camat Sawahan tentang kebenaran ucapan waktu mediasi antara ahli waris dari Parto Somo Kabul dengan pihak Supriyanto.
Hariono. S.Sos.,M.SI Camat Sawahan, membenarkan bahwa dalam mediasi tersebut dirinya mengatakan kalau Supriyanto memang di suruh tanya nenek nya yang sudah di kuburan dengan cara komunikasi melalui WhatsApp.
” Iya, saya bicara begitu! Bukan bermaksud apa-apa. Melainkan kelewat kesal” ucap Hariono. S.Sos.,M.Si.
Lebih lanjut, Hariono.S.Sos.,M.Si juga menjelaskan tentang ucapan bahwa, keluarga Supriyanto tidak bisa mengikuti progam PTSL di tahun ini bisa mengikuti program tahun depan.
“Kalau tidak bisa ikut program taun ini, kan bisa ikut program taun depan” jelas Hariono. S.Sos.,M.Si.
Sementara itu, I Gusti Putu Gandha Loka. S.H Paralegal dari Bhirawa Justisia menerangkan, dalam menjalankan program pemerintah khususnya di program PTSL diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam memahami berkas, serta bersikap netral dalam pelaksanaan di lapangan.
“Sebagai seorang pejabat tidak sepatutnya mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan masyarakat” terang Putu.
Selai itu, I Gusti Putu Gandha Loka. S.H, juga menjelaskan, seorang pejabat seharusnya tidak menimbulkan masalah bagi masyarakat atau bagi dirinya sendiri, karena masyarakat sudah tahu kalau seorang pegawai negeri merupakan abdi negara. Seorang abdi harus bisa menjalankan tugasnya dengan cara menjunjung norma hukum, norma sosial yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat.
“Jika seseorang pemimpin atau pejabat publik tidak bisa memahami norma hukum dan norma keadilan bagi masyarakat pasti akan timbul suatu masalah” jelas putu.
Lebih lanjut, I Gusti Putu Gandha Loka. S.H mengatakan seperti masalah yang di alami oleh Supriyanto masyarakat Desa Klumpit Kecamatan Sawahan merupakan suatu korban dari keserakahan seorang pemimpin yang tidak memahami norma hukum dan norma keadilan. Pasalnya, Supriyanto yang bisa membuktikan semua dengan berkas berkas yang dimiliki nya cuma dipandang dengan sebelah mata, sedangkan pihak ahli waris dari Parto Somo Kabul yang hanya bermodalkan bukti SPPT malah di istimewa kan .
“Saya, siap menjadi panglima dalam menyelesaikan masalah keadilan. Kita menilai sesuatu bukan dengan norma suka dan tidak suka, tapi kita berbicara fakta” cetus I Gusti Putu Gandha Loka. S.H. (Ngi/Dit)