Drama Mediasi Sengketa Batas Lahan

Layar Independen, Madiun, 15 Desember 2021

Mediasi dugaan sengketa batas tanah antara ahli waris almarhum Parto Somo Kabul dan Supriyanto warga Desa klumpit Kecamatan Sawahan Kabupaten Madiun, Yang diadakan di Kantor Desa Klumpit (Selasa 12/10/21) lalu, di duga penuh dengan drama. Pasalnya, mediasi tersebut tidak jelas siapa pemohon dan siapa termohon.
Supriyanto dikonfirmasi menjelaskan bahwa dirinya pada hari Sabtu (9/10 /21), lalu di datangi oleh Aris Setyo Jarwanto selaku kamituo, kedatangan Aris meminta agar hari Senin datang ke Kantor Desa.
“Saya, di suruh datang dan disitu sudah banyak orang yang notabene bukan orang yang berkepentingan” terang Supriyanto.
Lebih lanjut, Supriyanto juga menjelaskan bahwa dalam mediasi saya (Supriyanto -red) merasa ditekan oleh Hariono, S.sos, M.Si dengan bahasa bahwa dirinya tidak akan pernah menandatangani pengajuan sertifikat agar selama nya, pihak keluarga saya tidak bisa membuat sertifikat melalui program PTSL. Bahkan yang membuat saya kecewa, di saat ucapan Hariono, S.sos, M.Si mengatakan, saya disuruh tanya nenek saya yang di makam, padahal nenek saya sampai saat ini masih sehat dan bisa diajak komunikasi dengan jelas.

Supriyanto Warga Desa Klumpit Kecamatan Sawahan Kabupaten Madiun


“Saya di ancam dengan tidak bisa mengikuti program PTSL bila tidak mau menyepakati mediasi, bahkan sosok seorang camat yang seharusnya bisa menyikapi masalah ini dengan pikiran dingin malah mematikan nenek saya, padahal nenek saya masih dalam keadaan sehat” tutur Supriyanto.
Sementara itu, Sugiono, S.Pd Kepala Desa Klumpit Saat akan dikonfirmasi di kantor desa (13/12/21), menurut Aris Setyo Jarwanto selaku kamituo mengatakan bahwa Kepala Desa tidak ada di kantor.
“Pak lurah sedang tugas di kecamatan” terang Aris.
Bahkan saat Hariyono, S.sos, M.Si Camat Sawahan Kabupaten Madiun, akan dikonfirmasi kebenarannya tentang intimidasi dan ucapan yang mengatakan Supriyanto di suruh tanya neneknya yang sudah di kuburan, tidak ada ditempat (13/12/21). (Ngi/Dit)