Penegak Perda Terkesan Tutup Mata, Penambangan Pasir Bantaran Sungai Brantas Di Mrican Beraktivitas lagi

Surat pernyataan sikap menolak adanya penambang pasir memakai mesin diesel

Layar Independen, Kediri, 28 November, 2021

Tambang Pasir Mekanik di Desa Mrican lingkungan RT 01 Kecamatam Mojoroto Kediri para yang sempat tidak beroperasi beberapa hari lalu kini para penambang mulai beraktivitas menambang lagi, warga mulai tidak percaya sama penegak Perda.

Akivitas menambang pasir di sepanjang aliran Sungai Brantas, tepat di Desa Mrican Kecamatan Mojoroto Kabupaten Kediri, Jawa Timur, warga mulai resah lagi pasalnya dengan aktivitas tambang sedot pasir memakai ponthon àtàu diesel ara penambang dengan mendapatkan keuntungan tanpa memikirkàm dampaknya terhadap longsormya tangkis atau tanggul.

Aktivitas tambang pasir mekanik di bantaran aliran Sungai Brantas, di wilayah hukum Polres Kediri kota tepatnya di Kelurahan Mrican Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri Jawa Timur telah membuat warga lingkungan RT 01 dan RT 02 RW 05 dibuat resah dengan adanya aktivitas penambangan sedot pasir mekanik memakai diesel.

Pantauan wartawan di lokasi menyaksikan beroperasinya pengexploitasian sumber daya alam pasir yang masuk wilayah hukum Polres Kediri Kota itu dengan memakai 2 buah mesin diesel yang beroperasi mulai jam 08 wib. pagi sampai jam 17.00 wib membuat warga resah dan kwatir akan terjadi tanggul longsor yang mana tanggul batu yang digronjong bawahnya sudah terlihat tergerus bahkan ada yang ambrol.

Seperti yang dituturkan warga lingkungan RT 01 dan RT 02 sebut saja Nr bukan nama sebenarnya, kepada awak media menyampaikan, penambangan pasir mekanik itu sudah berjalan kurang lebih dua bulan dan saya sebenarnya tidak setuju dan mau melaporkan penambangan pasir ilegal tersebut, tetapi saya bingung mau lapor kemana, ucap Na.

Karena saya pernah lihat ada oknum berseragam yang mendatangi lokasi penambamgan pasir tersebut akan tetapi aktivitas dan terus berjalan dan saya berpikir percuma melapork an penambangan pasir meanik tersebut lha wong oknumnya saja mendatangi lokasi tidak ada tindakan kok !, terang Na.

Nr berharap Aparat Penegak Hukum atau penegak Perda Khususnya Sat Pol PP Kota Kediri untuk segera turun tangan dan menutup penambangan tersebut, dan untuk itu warga menggalang tanda tangan untuk penolakan adanya penambamgan sedot pasir pakai mekanik di aliran sungai Brantas tepatnya di lingkungan RT 01 dan 02 RW 05, ucapnya penuh harap.

Sekedar untuk diketahui, penambangan pasir dan semua jenis material batu dan tanah yang ada di kawasan aliran sungai Brantas bila dilakukan secara ilegal maka akan merusak ekosistemserta melanggar Undang-undang nomor 4 Tahun 2009 pasal 158 junto PP nomor 23 Tahun 2019 pasal 2 (2d), dengan ancaman pidana paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp10 miliar.( Tim )