Jangan Korbankan Putra Dan Putri Terbaik Desa Di Ajang Demokrasi Demi Sesuap Nasi

Penulis : Doanto pulastyo

Layar Independen , 4 November 2021

Pesta demokrasi ditingkat desa tinggal menghitung hari, putra dan putri desa terbaik mereka siap bertarung untuk memimpin desa dan mencerdaskan masyarakat, namun dengan adanya Perbup Nomor 38 Tahun 2021 tentang Kepala Desa.
Bahwa calon kepala desa dalam pilihan Kepala Desa (pilkades) paling banyak adalah 5 (lima ) orang calon. Domisili calon pendaftar bebas dari manapun asalkan terdaftar sebagai warga negara Indonesia.
Kalau dalam satu desa terdapat pendaftar lebih dari 5 (lima) orang, maka untuk menentukan 5 (lima) bakal calon yang lolos menjadi calon digunakan cara akumulasi skor (Penjumlahan nilai) dengan kriteria penilaian, masa pengabdian di pemerintahan, Usia, Jenjang Pendidikan, Domisili.
Seleksi yang diatur dalam Perbup nomor 38 tahun 2021 rawan akan adanya manipulasi dan bisa digunakan untuk menjatuhkan salah satu bakal calon yang akan berkompetisi.
Coba kita berfikir sejenak ! Seandainya dalam satu desa ada bakal calon kuat yang dikehendaki masyarakat, namun akumulasi skornya kecil. Untuk menyingkirkan bakal calon yang notabene sebagai putra atau putri desa terbaik cukup memasang 5 (lima) pendaftar calon abal-abal dengan skornya lebih tinggi dari bakal calon putra putri desa terbaik, secara otomatis bakal calon putra dan putri desa terbaik tadi akan tersingkir bin “keok” sebelum berlaga. Lalu, akan seperti apa desa tersebut apa bila yang akan memimpin bukan merupakan putra dan putri desa terbaik mereka, apakah ada jaminan desa itu nanti nya akan berkembang bila dipimpin dengan orang yang bermain – main dalam pesta demokrasi di tingkat desa?
Kalau semua itu, merupakan suatu permainan bukankah desa nanti nya juga akan ikut dimainkan. Hai, kamu ya kamu dimana nurani mu, demi sesuap nasi kamu rela mengorbankan putra dan putri terbaik desa, ingat pesta demokrasi ini nanti nya akan mensejahterakan dan mencerdaskan masyarakat desa bukan untuk bermain – main.