Antara Jerit Tangis dan Kelakar Pedagang Kaki Lima Di Era Pademi

Warung Fajar Yang Nampak Sepi Pengunjung

Layar independen, Ponorogo, 28 september 2021

Covid-19 membuat omset para pedagang kaki lima terjun bebas, bahkan juga tidak sedikit gulung tikar. Hal ini, disebabkan karena diberlakukan nya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Penutupan lokasi jualan lebih awal dan sepi nya pembeli menjadi sebab banyaknya pedagang yang terpaksa harus berhenti berjualan.

Fajar Pedagang Kaki Lima Di Sekitar Alun Alun Ponorogo


Fajar salah seorang pedagang kaki lima di tepi Alun-Alun Ponorogo, menuturkan bahwa sebelum adanya Covid-19 omset nya mencapai tiga juta per tiga hari, tapi setelah adanya Covid-19 omset nya menurun drastis, jangan kan untuk membayar bank plecit alias titil cukup kembali modal dan bisa ikut makan saja sudah bersyukur. Meski pada saat ini Ponorogo dalam zona orange tapi pengunjung juga tetap sepi.
“Walau zona orange, tatap sepi, meski kita buka lebih awal dari sebelumnya hasil tetap tidak seperti dulu” kata Fajar.
Lebih lanjut, Fajar juga mengatakan dalam kelakarnya bahwa zona orange itu, sudah sesuai dengan kondisi kota reog, dimana zona orange yang dimaksud mempunyai makna bahwa Covid-19 orange rampunge (tidak ada selesai nya), orange solusi untuk menutup hutang. Pemerintah menganjurkan penutupan jalan, dan penutupan pedagang kaki lima lebih awal agar tidak terjadi kerumunan hal ini, karena agar bisa memutus mata rantai, namun pemerintah lupa kalau pihak pemerintah tidak melakukan penutupan hutang kita para pedagang kaki lima yang berimbas para pelaku penagih berkerumun ke rumah untuk menagih hutang.
“Pemerintah lupa tidak membuat aturan menutup hutang saya, itu yang menyebabkan warung saya menjadi sepi dan rumah saya menjadi ramai para penagih hutang, yang alhasil juga tetap berkerumun” Kelakar Fajar. (Nggi)

Leave a Comment